Jumat, 26 Maret 2010

Alhamdulillah

“ALHAMDULILLAHI RABBIL’ALAMIN”
Aku bermimpi…suatu hari aku pergi ke surga dan seorang malaikat menemaniku dan menunjukkan keadaan di surga.
Kami berjalan dan memasuki suatu ruang kerja penuh dengan malaikat.
Malaikat yang mengantarku berhenti di depan ruang kerja pertama dan berkata :”Ini adalah Seksi Penerimaan. Disini, semua permintaan yang ditujuakn kepada Allah diterima”.
Aku melihat-lihat sekeliling tempat ini dan mendapati begitu banyak malaikat yang sibuk memilah-milah setiap permohonan yang tertulis pada kertas dari seluruh manusia di dunia.
Kemudian aku dan malaikat-ku kembali berjalan melalui koridor panjang dan sampailah kami pada ruang kerja kedua.
Malaikat-ku berkata :”Ini adalah Seksi Pengepakan dan Pengiriman. Disini semua kemuliaan dan rahmat yang diminta manusia diproses dan dikirim ke manusia-manusia yang masih hidup yang memintanya.
Aku perhatikan lagi begitu sibuknya ruang kerja itu. Ada banyak malaikat yang bekerja begitu keras karena begitu banyaknya permohonan yang diminta dan akan dipaketkan untuk dikirimkan ke bumi.
Kami melanjutkan perjalanan lagi hingga sampai pada ujung lorong terjauh dari koridor panjang tersebut. Dan kami berhenti di depan sebuah pintu ruang kerja terakhir yang sangat kecil. Yang sangat mengejutkan aku, hanya ada satu malaikat yang duduk disana, hampir tidak melakukan apapun.” Ini adalah Seksi Pernyataan Terima Kasih”, kata malaikat ku pelan. Dia tampak sangat malu.
“Bagaimana ini ? Mengapa hampir tidak ada pekerjaan di sini”, tanyaku.
“Menyedihkan”, malaikatku menghela napas. “Setelah semua manusia menerima rahmat yang mereka minta, sangat sedikit manusia yang mengirimkan pernyataan terima kasih”.
“Bagaimana cara manusia menyatakan terima kasih atas rahmat Tuhan ?”, tanyaku lagi.
“Mudah sekali”, jawab malaikat ku itu. “Cukup katakan ALHAMDULILLAHI RABBIL’ ALAMIN, terima kasih Tuhan”.
“Lalu, rahmat apa saja yang patut kita syukuri ?”, tanyaku. Malaikat ku menjawab “Jika engkau mempunyai makanan dilemari es, pakaian yang menutup tubuhmu, atap di atas kepalamu dan tempat untuk tidur, maka kamu lebih kaya dari 75% penduduk dunia ini”.
“Jika engkau memiliki uang di bank, di dompet dan uang-uang receh, maka engkau berada diantara 8% kesejahteraan di dunia”
“Dan jika engkau mendapati pesan ini dikomputermu, engkau adalah bagian dari 1% orang di dunia yang memiliki kesempatan itu”.
“Juga,jika engkau bangun pagi ini dengan lebih banyak kesehatan daripada kesakitan, maka engkau lebih dirahmati daripada begitu banyak orang yang tidak dapat bertahan hidup hingga hari ini”
“Jika engkau tidak pernah mengalami ketakutan dalam perang, kesendirian dalam penjara, kesengsaraan penyiksaan atau kelaparan yang amat sangat, maka engkau lebih beruntung dari 700 juta penduduk di dunia”
“Jika engkau dapat menghadiri mesjid atau pertemuan religius tanpa adanya ketakutan terhadap penyerangan, penangkapan, penyiksaan atau kematian, maka engkau lebih dirahmati daripada 3 milyar orang yang ada di dunia”
“Jika orangtuamu masik kidup dan masih berada dalam ikatan pernikahan, maka engkau termasuk orang yang sangat jarang”
“Jika engkau dapat menegakkan kepala dan tersenyum, maka engkau bukanlah seperti orang kebanyakan, engkau unik dibandingkan semua mereka yang berada dalam keraguan dan keputusasaan”
“Jika engkau dapat membaca pesan ini, maka engkau menerima rahmat ganda, yaitu bagi seseorang yang mengirimkan pesan ini padamu berpikir bahwa engkau orang yang sangat istimewa baginya, dan bahwa engkau lebih dirahmati daripada lebih dari 2 juta orang di dunia yang bahkan tidak dapat membaca sama sekali”
“Nikmatilah hari-harimu, hitunglah rahamt ynag telah Allah anugerahkan kepadamu. Dan jika engkau berkenan, kirimkan pesan ini kesemua teman-temanmu untuk mengatakan kepada mereka betapa dirahmatinya kita semua ‘Dan ingatlah takkala Tuhanmu menyatakan bahwa:”Sesungguhnya jika kau bersyukur, pasti Aku kan menambahkan lebih banyak nikmat kepadamu’ (QS Ibrahim (14):7).

DITUJUKAN PADA : DEPARTEMEN PERNYATAAN TERIMA KASIH
“TERIMA KASIH, ALLAH ! TERIMA KASIH, ALLAH ATAS ANUGERAHMU BERUPA KEMAMPUAN UNTUK MENERJEMAHKAN DAN MEMBAGI PESAN INI DAN MEMBERIKANKU BEGITU BANYAK TEMAN-TEMAN YANG ISTIMEWA UNTUK SALING BERBAGI”.

Jumat, 19 Maret 2010

mencoba lagi

Bercerita kembali lewat suara tanpa ada tatap semu mu
menari indah pada ujung kata yang kau buat bisu dengan keanggunan yang membunuhku
ada apa?

Kembali terkapar membuat seketsa berwujud laut
tidak asin tapi kasat tampaknya
ahhh...maut

lihat ini dengan mata sebelahmu
bercerita banyak tanpa sentuh dalam hati

kembalikan hatiku
yang bergerak menuju sendu
yang dulu tak begitu
tabu...
bisu...

gunakan hatimu setidaknya untuk menjawab tanda tanya ku
meski tak lunas..
meski tak tuntas..
sebait saja, karena aku sedang puttus asa..

hehehhe..
dunia tertawa tonton kisah ku, kisah mu, dan kisah kita
bertebaran tebak, meraup semua mungkin
mengeyampingkan sakit.

berseteru, tandas..
menepi..
kembali bersedih,
mungkin tak begini bila dulu aku bertahan dalam perang

tapi, kau mengujiku
menyeretku dalam perang yang bukan milikku

lihat ini..
aku ini dan aku yang kau kau ciptakan itu..
kanan..
kiri..
bercanda dengan pisau tajam yang kau sampirkan saja
membelah dunia yang sesungguhnya tak ada
masalahkah?
mungkin tidak menurutmu..

dan aku hanya terpaku
melihat betapa cepatnya semua tak terlihat olehmu
tak tampak begitu rupa.
ini aku..
yang kau ciptakan sekian waktu..

Aku..

Jumat, 12 Maret 2010

Merumuskan Kerukunan Antar Agama

Tau penulis yg namanya Pipiet Senja kan?? Nah, yg nulis note ini anaknya yg kebetulan jadi temen saya di fb. :D
Namanya Bang Haekal Siregar (sok kenal bgt ya..ckckck) :p
Saya copas, karena pas baca kayaknya lebih bermanfaat kalo makin banyak yg baca. Tenang aja..udah dapet ijin kok..jadi silakan baca, g usah ngerasa dosa (hahaha..gak ada hubungannya, tp biarlah) :p

Merumuskan Bentuk
Kerukunan Agama
Oleh Haekal Siregar 06
Januari 2010 jam 22:23

Sejauh ini, ada beberapa
bentuk interaksi antar
agama yang sudah saya
temukan. Antara lain:
1. Interaksi perang.
Bentuk ini, menurut saya,
adalah bentuk yang
paling berbahaya. Cirinya
adalah merasa agama
sendiri yang paling benar
dan agama lain adalah
salah, serta berupaya
secara aktif dalam
mencari kesalahan-kesalahan agama lain
atau bahkan menyerang
pemeluk agama lain.
Jangan salah, saya
bukannya tidak merasa agama saya yang benar dan agama lain salah, tapi tindakan pencarian kesalahan dan penyerangan justru hanya memunculkan konflik-konflik yang sebenarnya tidak perlu atau bahkan menyeret para pemeluk agama untuk justru menjauhi semangat agama itu sendiri. Saya pribadi sih, tidak mau menyiapkan anak/cucu saya hanya untuk maju dan mati di medan perang yang sebenarnya tidak perlu terjadi.

2. Pluralisme Teologi (berdasarkan istilah
Hasyim Muzadi).
Akhir-akhir ini, istilah ini semakin menonjol ketika muncul pergerakan-pergerakan pemuda seperti JIL atau para tokohnya seperti Cak Nur dan Gus Dur. Mungkin bentuk ini dimaksudkan sebagai kontra dari interaksi perang pada poin 1, namun menurut saya, bentuk ini juga agak ‘kebablasan’.
Dengan merumuskan teori-teori baru semacam semua agama adalah benar, Tuhan menyediakan pintu surga bermacam-macam untuk masing-masing pemeluk agama, dsb. Gerakan ini justru seperti membuat agama baru, yaitu agama pelangi! Bingkainya memang indah, seakan teori ini memberikan jalan keluar bagi pertentangan antar agama yang sering terjadi. Namun hasil akhirnya justru bermasalah! Apa yang salah dengan merasa agama sendiri benar? Toh kita memilih agama yang kita peluk justru karena kita merasa agama kita adalah benar. Toh kita tidak memilih agama yang lain justru karena kita merasa agama lain salah. Kemudian, tahu darimana kita, kalau Tuhan memang menyediakan pintu-pintu seperti itu di surga-Nya? Yang kita peroleh dari masing-masing agama kita (yang masing-masing agama mengklaim bahwa ajarannya berasal langsung dari Tuhan) adalah self proklaim bahwa agama kita lah yang benar, dan agama lain salah. Jadi, kalau kita masih yakin bahwa agama kita berasal dari Tuhan, sementara Tuhan sendiri mengklaim bahwa agama kita yang benar, untuk apa kita bikin teori baru bahwa Tuhan menerima semua agama?
3. Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.
Teori ini adalah yang paling tepat, menurut saya. Dengan mengakui badan-badan yang merupakan representasi dari masing-masing agama, MUI untuk Islam, PGI untuk Kristen (misalnya), lalu memberikan mereka hak untuk menstate batasan-batasan agama, kemudian mendirikan suasana kondusif dimana masing-masing pemeluk agama saling menghormati agama masing-masing, maka kita bisa menghindari segala macam pertentangan-pertentangan yang sebenarnya tidak perlu itu. Yang muslim tidak perlu mengotak-atik ajaran agama nasrani, yang nasrani pun tidak perlu mengotak-atik ajaran agama Islam.
Biarkan masing-masing memperkenalkan keindahan agama mereka tanpa perlu menunjukkan ‘kebusukan’ agama lain.
Sejauh ini, saya pikir, poin ke-3 adalah poin yang terbaik. Tentu saja untuk poin 3 bisa berjalan, perlu ada semacam badan netral yang berada di atas badan representasi agama tadi. Dalam contoh Indonesia, maka seharusnya pemerintahlah yang bertindak sebagai badan tersebut.
Fungsi dari badan ini adalah sebagai tempat pengaduan seandainya ada tindakan yang melanggar batas yang distate oleh badan representasi agama serta berwenang memberikan sanksi dan tindakan nyata bagi pelanggaran
tersebut. Sebagai umat pun, kita bisa belajar untuk mematuhi batas-batas agama, serta menahan diri untuk tidak ‘merecoki’ urusan agama
lain.
Dengan begitu, semoga kita semua bisa belajar untuk hidup di tengah pluralitas tanpa perlu kebablasan menjadi pluralisme ;)
wallahua’lam,
wassalam