Tau penulis yg namanya Pipiet Senja kan?? Nah, yg nulis note ini anaknya yg kebetulan jadi temen saya di fb. :D
Namanya Bang Haekal Siregar (sok kenal bgt ya..ckckck) :p
Saya copas, karena pas baca kayaknya lebih bermanfaat kalo makin banyak yg baca. Tenang aja..udah dapet ijin kok..jadi silakan baca, g usah ngerasa dosa (hahaha..gak ada hubungannya, tp biarlah) :p
Merumuskan Bentuk
Kerukunan Agama
Oleh Haekal Siregar 06
Januari 2010 jam 22:23
Sejauh ini, ada beberapa
bentuk interaksi antar
agama yang sudah saya
temukan. Antara lain:
1. Interaksi perang.
Bentuk ini, menurut saya,
adalah bentuk yang
paling berbahaya. Cirinya
adalah merasa agama
sendiri yang paling benar
dan agama lain adalah
salah, serta berupaya
secara aktif dalam
mencari kesalahan-kesalahan agama lain
atau bahkan menyerang
pemeluk agama lain.
Jangan salah, saya
bukannya tidak merasa agama saya yang benar dan agama lain salah, tapi tindakan pencarian kesalahan dan penyerangan justru hanya memunculkan konflik-konflik yang sebenarnya tidak perlu atau bahkan menyeret para pemeluk agama untuk justru menjauhi semangat agama itu sendiri. Saya pribadi sih, tidak mau menyiapkan anak/cucu saya hanya untuk maju dan mati di medan perang yang sebenarnya tidak perlu terjadi.
2. Pluralisme Teologi (berdasarkan istilah
Hasyim Muzadi).
Akhir-akhir ini, istilah ini semakin menonjol ketika muncul pergerakan-pergerakan pemuda seperti JIL atau para tokohnya seperti Cak Nur dan Gus Dur. Mungkin bentuk ini dimaksudkan sebagai kontra dari interaksi perang pada poin 1, namun menurut saya, bentuk ini juga agak ‘kebablasan’.
Dengan merumuskan teori-teori baru semacam semua agama adalah benar, Tuhan menyediakan pintu surga bermacam-macam untuk masing-masing pemeluk agama, dsb. Gerakan ini justru seperti membuat agama baru, yaitu agama pelangi! Bingkainya memang indah, seakan teori ini memberikan jalan keluar bagi pertentangan antar agama yang sering terjadi. Namun hasil akhirnya justru bermasalah! Apa yang salah dengan merasa agama sendiri benar? Toh kita memilih agama yang kita peluk justru karena kita merasa agama kita adalah benar. Toh kita tidak memilih agama yang lain justru karena kita merasa agama lain salah. Kemudian, tahu darimana kita, kalau Tuhan memang menyediakan pintu-pintu seperti itu di surga-Nya? Yang kita peroleh dari masing-masing agama kita (yang masing-masing agama mengklaim bahwa ajarannya berasal langsung dari Tuhan) adalah self proklaim bahwa agama kita lah yang benar, dan agama lain salah. Jadi, kalau kita masih yakin bahwa agama kita berasal dari Tuhan, sementara Tuhan sendiri mengklaim bahwa agama kita yang benar, untuk apa kita bikin teori baru bahwa Tuhan menerima semua agama?
3. Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.
Teori ini adalah yang paling tepat, menurut saya. Dengan mengakui badan-badan yang merupakan representasi dari masing-masing agama, MUI untuk Islam, PGI untuk Kristen (misalnya), lalu memberikan mereka hak untuk menstate batasan-batasan agama, kemudian mendirikan suasana kondusif dimana masing-masing pemeluk agama saling menghormati agama masing-masing, maka kita bisa menghindari segala macam pertentangan-pertentangan yang sebenarnya tidak perlu itu. Yang muslim tidak perlu mengotak-atik ajaran agama nasrani, yang nasrani pun tidak perlu mengotak-atik ajaran agama Islam.
Biarkan masing-masing memperkenalkan keindahan agama mereka tanpa perlu menunjukkan ‘kebusukan’ agama lain.
Sejauh ini, saya pikir, poin ke-3 adalah poin yang terbaik. Tentu saja untuk poin 3 bisa berjalan, perlu ada semacam badan netral yang berada di atas badan representasi agama tadi. Dalam contoh Indonesia, maka seharusnya pemerintahlah yang bertindak sebagai badan tersebut.
Fungsi dari badan ini adalah sebagai tempat pengaduan seandainya ada tindakan yang melanggar batas yang distate oleh badan representasi agama serta berwenang memberikan sanksi dan tindakan nyata bagi pelanggaran
tersebut. Sebagai umat pun, kita bisa belajar untuk mematuhi batas-batas agama, serta menahan diri untuk tidak ‘merecoki’ urusan agama
lain.
Dengan begitu, semoga kita semua bisa belajar untuk hidup di tengah pluralitas tanpa perlu kebablasan menjadi pluralisme ;)
wallahua’lam,
wassalam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar