Baru beres baca buku 'Moga Bunda Disayang Allah' nya Tere-liye. Bagus banget. Dan setiap buku yang habis saya baca pasti ngasih kesan tersendiri. Membekas, terpatri, mungkin kadang maknanya terlupa. Tak apa, saya akan menemukannya lagi di satu waktu yang tepat. :)
Tentang dimana seorang anak 6 tahun yang buta tuli, Bunda yang sabar (nyaris diambang batas) menunggu keajaiban, keadilan yang diharapkan dari Sang Maha Adil atas kehidupan yang diberikan. Ketika akses informasi, perantara belajar anak itu tertutup (iyalah, gimana cara berkomunikasinya coba). Gimana bisa dia mengenal Tuhannya, yang menciptakan dia dengan takdir menjadi buta dan tuli. Bagaimana dia mengerti, paham akan rasa yang dia rasakan. Gak, dia ga pernah tahu (hingga saatnya tiba).
Kesabaran bunda, kepercayaannya akan janji bagi orang yang tak pernah putus asa akan Rahmat Nya. Perjuangan menembus batas kesabaran (kalau saya sih). Doa-doa, pengharapan besar. Bunda, selalu menjadi sosok terbaik dimanapun. (bangga ya jadi ibu) :)
Dan, tentu saja perantara kesembuhan itu sendiri. sang guru yang sempat kehilangan dirinya sendiri. Kehillangan rasa percaya akan keadilan hidup yang diberikan. Apa benar hdup itu adil? Sebuah keadilankah kala atas kerja kerasnya, atas niat terbaiknya malah dia kehilangan apa yang paling berharga dari dirinya. Tidak menghargai diri sendiri. tenggelam dalam penyesalan, menghilangkan mimpi yang terbangun dan terserak seketika. Tidak, hidup itu tidak adil baginya (saat itu).
Kunang-kunang bercahaya membentang sepanjang pantai
menelusuri goyah, ragu yang seketika datang tak sendiri
Ada rahasia...kitab terdahulu yang katanya telah tertulis sebelum hayat
Mencari rasa adil yang ikut tenggelam dalam dingin sebiru lebam cahaya maut
Tidak! tentu saja adil
hanya terlalu bebal saja mengartikan keadilan hakiki yang tersirat
Tuhan, ada Mu adalah tanpa ada batas sabar di tepi
kepercayaan abadi tanpa tendensi
Maka kunang-kunang bercahaya
maka akupun percaya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar