Sama-sama anak pertama. Sama-sama nyari makan dari hasil keringat sendiri. Sama-sama punya adik banyak. Sama-sama...egois dan keras kepala.
Mungkin ada benarnya yang mengatakan kalau kita menyukai seseorang karena kesamaan yang ada pada diri masing-masing. Entah apa cerminan diri ada disitu, sadar atau tidak.
Namun, seiring berjalan waktu perbedaan-perbedaan muncul. Konflik timbul. Drama bertebaran.
Pahit, manis, asam, asin, kemarau, penghujan, kering, banjir, makmur, berhemat, datang, pergi, tawa, tangis.
Dan saya takjub. Saya tidak sedewasa yang saya pikirkan. Saya tidak sebaik yang saya sangkakan. Saya bermetamorfosis. Tidak, tentu saja tidak seindah kupu-kupu. Namun saya masih menaruh harap bisa menjadi lebih baik dengan saling mengingatkan.
Saya beberapa kali ngobrol dengan guru saya yang asik. Dan dia bilang saya egois. Waktu itu saya ketawa, setidaknya saya pikir saya tidak seegois yang orang lain pikir.
Dan benar saja, drama drama bermunculan karena ego saya yang terusik. Debat panjang. Mirip-mirip rapat OSIS dulu yang kadang banyak pemaparan dan sulit ambil keputusan hahaha. Namun, waktu itu saya berpikir "saya benar".
##
Tidak, bukan berarti saya sekarang sebaik itu juga sih.
Tetapi, setidaknya perjalanan sisi ini membentuk saya lebih aware. Entah dalam bentuk seperti apa. Setidaknya akhir-akhir ini drama dan konflik itu jauh berkurang drastis.
Bila kau tahu tujuan mu apa, kau juga tahu harus menempuh jalur mana. Berjalan lambat atau cepat. Naik kendaraan apa.
###
Pilihan. Resiko.
Dan semua akan lebur pada satu waktu,
Membingkai momentum,
Memberikan nyala yang menyadarkan,
Gaung masa akan berkejaran,
Ke depan dengan gagah,
Menoleh anggun,
Dan semua hanya menjadi lukisan jelaga,
Aku mencari dengan pasti,
Berharap peri rapalkan mantra,
Bukan hanya menunggu dengan tiara,
Sesungguhpun.
Ketika masa hanya bisa menoleh sekali.
Sesakit atau sesenang apa.
Aku ingin ikut menari dengan semua pesta prahara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar