Senin, 14 September 2009

Selamat Datang di Dunia Yang Aneh..

Selamat Datang di Dunia aneh

"Assalamu'alaikum Warakhmatullahi Wabarakaatukh, Dunia memang aneh",
Gumam Pak Ustadz

"Apanya yang aneh Pak?" Tanya Penulis yang fakir ini.

"Tidakkah kamu perhatikan disekelilingmu, bahwa dunia menjadi
terbolak-balik, tuntunan jadi tontonan, tontonan jadi tuntunan, sesuatu yang
wajar dan seharusnya dipergunjingkan, sementara perilaku menyimpang dan
kurang ajar malah menjadi pemandangan biasa. Coba anda rasakan sendiri,
nanti Maghrib, anda kemasjid, kenakan pakaian yang paling bagus yang
anda miliki, pakai minyak wangi, pakai sorban, lalu kamu berjalan
kemari, nanti kamu ceritakan apa yang kamu alami" Kata Pak Ustadz.

Tanpa banyak tanya, penulis melakukan apa yang diperintahkan Pak
Ustadz, menjelang maghrib, penulis bersiap dengan mengenakan peci, pakaian
rapi dan wewangian dan berjalan menunju masjid yang berjarak sekitar 800m
dari rumah.

Belum setengah perjalanan, penulis berpapasan dengan seorang ibu muda
yang sedang jalan-jalan sore sambil menyuapi anaknya. "Aduh, tumben nih
rapih banget, kayak pak ustadz, mau kemana sih?" tanya ibu muda itu.

Sekilas pertanyaan tadi biasa saja, karena memang kami saling kenal,
tapi ketika dikaitkan dengan ucapan Pak Ustadz diatas, menjadi sesuatu
yang lain rasanya;

"Kenapa orang yang hendak pergi kemasjid dengan pakaian rapih dan
memang semestinya seperti itu ditumbenin? Kenapa justru orang yang
jalan-jalan dan ngasih makan anaknya ditengah jalan, ditengah kumandang adzan
maghrib menjadi biasa-biasa saja?

Kenapa orang kemasjid dianggap aneh? Orang yang pergi kemasjid akan
terasa "aneh" ketika orang-orang lain justru tengah asik nonton sinetron
"Intan" atau siaran langsung AFCup.

Orang kemasjid akan terasa "aneh" ketika melalui kerumunan orang-orang
yang sedang ngobrol dipinggir jalan dengan suara lantang seolah
meningkahi suara panggilan adzan.

Orang kemasjid terasa "aneh" ketika orang lebih sibuk mencuci motor dan
mobilnya yang kotor kehujanan.

Ketika hal itu penulis ceritakan ke Pak Ustadz, beliau hanya tersenyum,

"Kamu akan banyak menjumpai "keanehan-keanehan" lain disekitarmu" ,
kata Pak Ustadz.

"Keanehan-keanehan" disekitar kita?

Cobalah ketika kita datang kekantor, kita lakukan shalat sunah dhuha,
pasti akan nampak "aneh" ditengah orang-orang yang sibuk sarapan, baca
koran dan ngobrol.

Cobalah kita shalat dhuhur atau Ashar tepat waktu, akan terasa "aneh",
karena masjid masih kosong melompong, akan terasa aneh ditengah-tengah
sebuah lingkungan dan teman yang biasa shalat diakhir waktu.

Cobalah berdzikir atau tadabur al qur'an ba'da shalat, akan terasa aneh
ditengah-tengah orang yang tidur mendengkur setelah atau sebelum
shalat. Dan makin terasa aneh ketika lampu mushola/masjid harus dimatikan
agar tidurnya tidak silau dan nyaman. Orang yang mau shalat malah serasa
menumpang ditempat orang tidur, bukan malah sebaliknya, yang tidur itu
justru menumpang ditempat shalat. Aneh bukan?

Cobalah hari ini shalat jum'at lebih awal, akan terasa aneh, karena
masjid masih kosong, dan baru akan terisi penuh manakala khutbah kedua
menjelang selesai.

Cobalah anda kirim artikel atau tulisan yang berisi nasehat, akan
terasa aneh ditengah-tengah kiriman e-mail yang berisi humor, plesetan, asal
nimbrung, atau sekedar gue, elu, gue, elu dan test..test, test saja.

Cobalah baca artikel atau tulisan yang berisi nasehat atau hadits, atau
ayat al qur'an, pasti akan terasa aneh ditengah orang-orang yang
membaca artikel-artikel lelucon, lawakan yang tak lucu, berita hot atau
lainnya.

Dan masih banyak keanehan-keanehan lainnya, tapi sekali lagi jangan
takut menjadi orang "aneh" selama keanehan kita sesuai dengan tuntunan
syari'at dan tata nilai serta norma yang benar .

Jangan takut "ditumbenin" ketika kita pergi kemasjid, dengan pakaian
rapih, karena itulah yang benar yang sesuai dengan al qur'an (Al
A'raf:31).

Jangan takut dikatakan "sok alim" ketika kita lakukan shalat dhuha
dikantor, wong itu yang lebih baik kok, dari sekedar ngobrol ngalor-ngidul
tak karuan.



Jangan takut dikatakan "Sok Rajin" ketika kita shalat tepat pada
waktunya, karena memang shalat adalah kewajiban yang telah ditentukan
waktunya terhadap orang-orang beriman.

"Maka apabila kamu Telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di
waktu berdiri, di waktu duduk dan diwaktu berbaring. Kemudian apabila
kamu telah merasa aman, Maka Dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa (An
Nisaa:103). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan
waktunya atas orang-orang yang beriman"

Jangan takut untuk shalat jum'at dishaf terdepan, karena perintahnya
pun bersegeralah. ....

"Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat
Jum'at, Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual
beli [1475]. yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu
mengetahui". (Al Jumu'ah:9)

(1475- Maksudnya: apabila imam Telah naik mimbar dan muazzin Telah
azan dihari Jum'at, Maka kaum muslimin wajib bersegera memenuhi panggilan
muezzin itu dan meninggalakan semua pekerjaannya) .

Jangan takut kirim artikel berupa nasehat, hadits atau ayat-ayat Al
Qur'an, karena itu adalah sebagian dari tanggung jawab kita untuk saling
menasehati, saling menyeru dalam kebenaran, dan seruan kepada kebenaran
adalah sebaik-baik perkataan; *Siapakah yang lebih baik perkataannya
daripada orang yang menyeru kepada Allah*, mengerjakan amal yang saleh,
dan berkata: Sesungguhnya Aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?"
(Fusshilat:33)

Jangan takut artikel kita tidak dibaca, karena memang demikianlah Allah
menciptakan ladang amal bagi kita. Kalau sekali seru, sekali kirim
artikel lantas semua orang mengikuti apa yang kita serukan, habis donk
ladang amal kita....

Kalau yang kirim e-mail humor saja, gambar-maaf-porno, gue/elu saja,
atau test-test saja bisa kirim e-mail setiap hari, kenapa kita mesti
risih dan harus berpikir ratusan atau bahkan ribuan kali untuk saling
memberi nasehat, aneh nggak sih?

Jangan takut dikatain sok pinter, sok menggurui, sok tahu, lha wong itu
yang disuruh kok, "sampaikan dariku walau satu ayat"

Jangan takut baca e-mail dari siapapun, selama e-mail itu berisi
kebenaran dan bertujuan untuk kebaikan. Kita tidak harus baca e-mail dari
orang-orang terkenal, e-mail dari manajer atau dari siapapun kalau isinya
sekedar dan ala kadarnya saja, atau dari e-mail yang isinya asal kirim
saja.

Mutiara akan tetap jadi mutiara terlepas dari siapapun pengirimnya. Pun
sampah tidak akan pernah menjadi emas, meskipun berasal dari tempat
yang mewah sekalipun.

Lakukan "keanehan-keanehan" yang dituntun manhaj dan syari'at yang
benar.

Kenakan jilbab dengan teguh dan sempurna , meskipun itu akan serasa
aneh ditengah orang-orang yang berbikini dan ber-U can see.

Jangan takut mengatakan perkataan yang benar (Al Qur'an & Hadist),
meskipun akan terasa aneh ditengah hingar bingarnya bacaan vulgar dan tak
bermoral.

Lagian kenapa kita harus takut disebut "orang aneh" atau "manusia
langka" jika memang keanehan-keanehan menurut pandangan mereka justru yang
akan menyelematkan kita (di yaumul akhir, yaumul hisab dan akhirat
kelak)...

Selamat jadi orang aneh yang bersyari'at dan bermanhaj yang benar...

(Laa ilaaha illaa annta subhaanaka inni kunntu minazhahaalimin...Laa
haula walaa quwwata illaa billaahil'aliyyil'azhim)



__._



-Anonim-

Selamat datang dan jangan lupa ucapkan selamat tinggal...

Jumat, 07 Agustus 2009

Suara yang Didengar Mayat

Satu hari aku main ke rumah kawan, kakak ku anggap dia. Dengan semangat mengajakku
ke depan komputer dalam kamarnya. "Baca ini", pintanya.
Hati-hati kubaca email ini :

SUARA YANG DIDENGAR MAYAT
Yang Akan Ikut Mayat Adalah Tiga hal yaitu:
1. Keluarga
2. Hartanya
3. Amalnya

Ada Dua Yang Kembali Dan Satu akan Tinggal Bersamanya yaitu:
1. Keluarga dan Hartanya Akan Kembali
2. Sementara Amalnya Akan Tinggal Bersamanya.

Maka ketika Roh Meninggalkan Jasad...Terdengarlah Suara Dari Langit Memekik, "Wahai Fulan Anak Si Fulan..
Apakah Kau Yang Telah Meninggalkan Dunia, Atau Dunia Yang Meninggalkanmu
Apakah Kau Yang Telah Menumpuk Harta Kekayaan, Atau Kekayaan Yang Telah Menumpukmu
Apakah Kau Yang Telah Menumpuk Dunia, Atau Dunia Yang Telah Menumpukmu
Apakah Kau Yang Telah Mengubur Dunia, Atau Dunia Yang Telah Menguburmu."

Ketika Mayat Tergeletak Akan Dimandikan....Terdengar Dari Langit Suara Memekik, "Wahai Fulan Anak Si Fulan...
Mana Badanmu Yang Dahulunya Kuat, Mengapa Kini Terkulai Lemah
Mana Lisanmu Yang Dahulunya Fasih, Mengapa Kini Bungkam Tak Bersuara
Mana Telingamu Yang Dahulunya Mendengar, Mengapa Kini Tuli Dari Seribu Bahasa
Mana Sahabat-Sahabatmu Yang Dahulunya Setia, Mengapa Kini Raib Tak Bersuara"

Ketika Mayat Siap Dikafan...Suara Dari Langit Terdengar Memekik, "Wahai Fulan Anak Si Fulan
Berbahagialah Apabila Kau Bersahabat Dengan Ridha
Celakalah Apabila Kau Bersahabat Dengan Murka Allah


Wahai Fulan Anak Si Fulan...
Kini Kau Tengah Berada Dalam Sebuah Perjalanan Nun Jauh Tanpa Bekal
Kau Telah Keluar Dari Rumahmu Dan Tidak Akan Kembali Selamanya
Kini Kau Tengah Safar Pada Sebuah Tujuan Yang Penuh Pertanyaan."

Ketika Mayat Diusung.... Terdengar Dari Langit Suara Memekik, "Wahai Fulan Anak Si Fulan..
Berbahagialah Apabila Amalmu Adalah Kebajikan
Berbahagialah Apabila Matimu Diawali Tobat
Berbahagialah Apabila Hidupmu Penuh Dengan Taat."

Ketika Mayat Siap Dishalatkan....Terdengar Dari Langit Suara Memekik, "Wahai Fulan Anak Si Fulan..
Setiap Pekerjaan Yang Kau Lakukan Kelak Kau Lihat Hasilnya Di Akhirat
Apabila Baik Maka Kau Akan Melihatnya Baik
Apabila Buruk, Kau Akan Melihatnya Buruk."

Ketika Mayat Dibaringkan Di Liang Lahat....terdengar Suara Memekik Dari Langit, "Wahai Fulan Anak Si Fulan...
Apa Yang Telah Kau Siapkan Dari Rumahmu Yang Luas Di Dunia Untuk Kehidupan Yang Penuh Gelap Gelita Di Sini

Wahai Fulan Anak Si Fulan...
Dahulu Kau Tertawa, Kini Dalam Perutku Kau Menangis
Dahulu Kau Bergembira, Kini Dalam Perutku Kau Berduka
Dahulu Kau Bertutur Kata, Kini Dalam Perutku Kau Bungkam Seribu Bahasa."

Ketika Semua Manusia Meninggalkannya Sendirian....Allah Berkata Kepadanya, "Wahai Hamba-Ku.....
Kini Kau Tinggal Seorang Diri
Tiada Teman Dan Tiada Kerabat
Di Sebuah Tempat Kecil, Sempit Dan Gelap..
Mereka Pergi Meninggalkanmu.. Seorang Diri
Padahal, Karena Mereka Kau Pernah Langgar Perintahku
Hari Ini,....
Akan Kutunjukan Kepadamu
Kasih Sayang-Ku
Yang Akan Takjub Seisi Alam
Aku Akan Menyayangimu
Lebih Dari Kasih Sayang Seorang Ibu Pada Anaknya".

Kepada Jiwa-Jiwa Yang Tenang Allah Berfirman, "Wahai Jiwa Yang Tenang
Kembalilah Kepada Tuhanmu
Dengan Hati Yang Puas Lagi Diridhai-Nya
Maka Masuklah Ke Dalam Jamaah Hamba-Hamba-Ku
Dan Masuklah Ke Dalam Jannah-Ku"

Anda Ingin Beramal Shaleh...?
Tolong Kirimkan Kepada Rakan-Rakan Muslim Lainnya Yang Anda Kenal...!!!
Semoga Kematian akan menjadi pelajaran yang berharga bagi kita dalam
menjalani hidup ini.


Rasulullah SAW menganjurkan kita untuk senantiasa mengingat mati (maut) dan dalam sebuah hadithnya yang lain, belau bersabda "wakafa bi almauti wa'idha", artinya, cukuplah mati itu akan menjadi pelajaran bagimu.

Semoga bermanfaat bagi kita semua, Amiin....

Bahan Renungan Untuk Anda, Sahabatku, yang mungkin terlalu sibuk bekerja...
Luangkanlah waktu sejenak untuk membaca dan merenungkan pesan ini...

Alhamdulillah, Anda beruntung telah terpilih untuk mendapatkan kesempatan membaca email ini.

Aktifitas keseharian kita selalu mencuri konsentrasi kita. Kita seolah lupa dengan sesuatu yang kita tak pernah tahu bila kedatangannya. Sesuatu yang bagi sebagian orang sangat menakutkan. Tahukah kita bila kematian akan menjemput kita???

Sebarkan e-mail dakwah ini ke 5 orang terdekat Anda, dan mintalah mereka untuk melakukan hal yang sama. Cukup lima saja. Ini bukan surat ancaman berantai. Yang jelas jika Anda tidak meneruskan e-mail ini, maka Anda telah menyia2 kan kesempatan untuk saling menasihati dalam kebenaran dan beramal shalih. Jika Anda lakukan dengan ikhlas insya Allah Anda akan menuai kebaikan. Mari berlomba dalam kebaikan.

Wassalam.

Terus terang,merinding juga aku baca email ini. Kadang lupa dan sekarang aku berusaha untuk ingat, berusaha insyaallah.
Bagaimana dengan anda ?

Senin, 11 Mei 2009

Kesetiaan Terhadap Diri Sendiri

'Agama adalah kesetiaan (loyalitas)' (HR Bukhari)

'Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka' (HR Ibnu Maajah)

'Kalian semua adalah pemimpin dan kalian semua bertanggung jawab atas apa yg kalian pimpin' (HR Muttafaq'alaih)

Ya,orang beragama adalah orang yg semestinya memiliki loyalitas pada agamanya. Sekarang bagaimana caranya agar kita memiliki dan bisa meningkatkan kesetiaan kita ?.

Lihat berapa jumlah umat islam di Indonesia . Jawaban yg kita dapatkan adalah terbesar di dunia. Subhanallah..
Sekarang mari lihat berapa banyak aksi kriminalitas yg ada setiap hari. Dan yg tampak adalah tiada henti barang sehari.
Ironis..

Pernahkah terlintas pada pikiran anda,apa yg dipikirkan orang barat (non muslim) yg oleh sebagian orang Indonesia dibenci mati-matian dan sebagian lain dipuja habis-habisan. Bagaimana muka bangsa Indonesia yg mayoritas beragama islam,malah bercokol diperingkat tiga terbesar dalam hal korupsi. Apa yg mereka pikirkan ??

Harapan yg ada menurutku,hanyalah mereka tidak melihat 'siapa' tapi mengetahui 'bagaimana'.
Tidak melihat siapapun dari agamanya tapi memahami,setidaknya mengetahui benar hakekat ajaran agama tersebut.

Kesetiaan lagi-lagi menjadi barang langka dan mahal. Loyalitas begitu sulit ditanamkan. Bagai orang buta yg membuang tongkatnya. Terbata melangkah,begitu mudah dibelokkan. Dan kesetiaan amat sulit ditemukan.

Kesetiaan pada agama,kesetiaan pada negara,kesetiaan pada yg dipimpin. Begitu besar 'setia' yg mesti dimiliki tiap pemimpin.
Seperti pelayan yg bekerja tanpa harap imbalan lain selain keridhaan-Nya,seperti kekasih yg harus setia pada pasangannya,seperti orangtua yg akan melakukan apapun untuk kebahagiaan anaknya. Seperti itu kira-kira pemimpin yg didambakan.
Memendam rindu dikala jauh,mencurahkan kasih bila ada didekatnya,merasai sakit apabila belahan jiwa tersakiti. Begitu indah.

Setiap pemimpin adalah pelayan. Maka setiap orang adalah pelayan. Bagi agamanya,bagi dirinya,bagi keluarganya,bagi negaranya dan bagi dunianya.

Kadang kita mengakui bahwa yg paling sayang kpd diri kita adalah kita sendiri. Sekarang coba ingat-ingat berapa kali anda kecewa dlm hidup. Dan yg harus lagi diingat adalah KENAPA.

Kenapa anda kecewa,kenapa bisa,memangnya kenapa ?.
Bukankah salah satu sebabnya adalah karena keputusan yg anda ambil kala itu?

Lihat..begitu sayang pada diri sendiri,sampai bisa merusak hati dg kekecewaan. Sayang macam apa?!
Telah dikhianatikah oleh diri sendiri?
Bisa saja !!
Karena dari awal kita tidak setia,tidak berusaha setia dan sepertinya tidak ingin setia pada diri sendiri.

Bila kita setia,knp enggan membantu mata yg kesulitan memandang hanya yg baik,susah benar menolong kaki yg tak beranjak juga dari kursi malas,sulit sekali menahan hati yg kadang bimbang dg hal-hal pasti. Pasti baiknya,pasti buruknya.
Itukah setia. Bukankah kesetiaan biasanya terlihat ketika ada yg berbuat setulus hati untuk melakukan yg terbaik,apapun resikonya,selelah apapun kondisi fisiknya.
Dan sudah merasa loyalkah anda pada diri anda sendiri?
Karena,apapun yg anda kerjakan berpengaruh besar bagi sekitar anda karena anda adalah salah seorang pemimpin.

Sebuah cerita: ada seseorang yg ingin sekali memimpin dunia,tp ketika dia melihat keadaan dunia seperti ini,maka ia mengecilkan cita-citanya menjadi ingin menguasai negara. Tapi ketika melihat keadaan negaranya seperti ini,ia kembali ragu dan bercita-cita untuk menjadi pemimpin yg baik bg lingkungan sekitarnya. Ketika melihat keadaan lingkungan yg buruk,ia berpikir untuk memimpin keluarganya terlebih dahulu.Tapi sama dg yg sudah-sudah,keadaan keluarganyapun begitu memprihatinkan. Maka,ia bertekad untuk dapat memimpin dirinya sendri dg baik. Dan ia berhasil !! Setelahnya,ia bisa jadi pemimpin keluarganya,bisa memimpin lngkungannya dg baik. Lalu naik trz dg memimpin negaranya yg begitu ia khawatirkan dan akhirnya dpt memimpin dunia.

Tidak hanya sekedar tahu..

Kalian tahu sobat..
Bahwa rajin belajar bisa bikin pintar, hemat pangkal kaya, orang baik dan jahat akan mendapat balasan setimpal atas perbuatannya.
Aku tahu dan anda pasti juga tahu semua itu.

Setiap langkah dalam setiap kali helaan nafas adalah saat dimana kita harus memilih. Entah itu sebuah big deal dlm hidup atau sekedar menentukan arah langkah kita. Kita tahu dan masih harus memilih.

Ukuran kepastian pada setiap pilihan,tentunya tak luput dari semua apa yg kita tahu,apa yg kita miliki dan apa yg bisa dilakukan. Tanpa itu,apapun pilihan yg kita ambil hanya sekedar untung-untungan. Maka untunglah orang yg beruntung.

Bila kita tahu semua ini,mana yg baik,mana tidak baik. Apa yg harus dilakukan mana yg mesti ditinggalkan. Bukankah mudah ?..Tapi ternyata apa yg kita tahu punya batas pd kata tahu hanya tahu.

Tahukah kawan,ternyata hidup tidak cukup hanya sekedar tahu.

Bila kita tahu banjir bisa terjadi karena sampah yg ada bukan pd tempatnya. Kenapa kita biarkan,bahkan malah menambahkan.
Jika kita tahu bila dg berusaha lebih keras dan atas izin Allah apapun yg diinginkan bisa saja tercapai,kenapa masih saja bertopang dagu. Bila tahu sholat,puasa adalah wajib hukumnya,dimana bila ditinggalkan maka harga tiket neraka telah dicicil dg itu,kenapa juga masih banyak yg meninggalkan. Sungguh,percayalah..mereka tahu itu.

Perlu lebih dari tahu untuk dpt hidup. Butuh lebih dari sekedar semangat untuk mulai melangkah. Mesti ada lebih dari setumpuk niat agar tubuh bisa bergerak. Harus ada lebih dari kata siap untuk melihat hasilnya. Lihat..Tuhan menciptakan kelebihan pada diri kita.

Tahulah aku,bahwa memang masih banyak yg belum diketahui. Dan ada pula kritikan,bahwa masih kurang ketahuan yg semestinya diketahui.

Rabu, 08 April 2009

Tulis Aja.....

Sempet bingung pertamanya, harus nulis apalagi. Nyari-nyari bahan, ngejar-ngejar ide sampe hunting tulisan-tulisan gak jelas gitu (Eh, emang ada ya ?). Yah intinya berusaha sekuat tenaga mencari sesuatu untuk ditulis.
Akhirnya dapet masukan, katanya (lupa lagi kata siapa ) kalo memang mau nulis ya tulis aja. Meskipun bingung mau nulis apa ya udah tulis yang dibingungin apa (gimana sih).
Semua orang bisa nulis kok, buktinya semua orang bisa bicara (tentu ada pengecualian yah). Yang biasa kita pakai kan bahasa yang tersusun dari kalimat. Dan kalimat itu sendiri terdiri dari kata-kata. Setidaknya ketika kita bisa bicara A, B, C, D, E, F, G sampe Z. Bukankah huruf-huruf itu bisa ditulis ???. Ya udah tulis aja !!!.
Jangan mempersulit hal-hal yang mudah. Seperti yang kawan SMA ku bilang “hidup itu sederhana, jangan suka memperumit masalah”. Ah ya, mudah sekali dia bicara. Tetapi, memang demikian adanya.
Jadi, ya sudah..Aku tulis saja apa yang mau ditulis. Selesai.

Kumpulan Puisi

1.
Ada larangan anak kecil berenang agar tak tenggelam.
Ada tabu untuk tertentu agar tak berseteru.
Ada dosa, ganjaran bagi si pembangkang.
Tapi..
Ada biru laut yang melambai,
Janjikan ia sendiri tanpa hiu tanpa gelombang pasang.
Ada seteru berseru,
Janjikan damai tanpa ada dendam dalam hati.
Ada maaf akan khilaf,
Janjikan penghapusan selama masa salah tak terulang lagi.
Sempat…
Berani saja menyelam tanpa ada jaminan,
Hanya janji.
Berani terus rusuh tanpa ada jaminan,
Hanya janji.
Berani lagi mendosa tanpa ada jaminan,
Hanya janji.
Aku bertanya..
Siapakah pemegang janji.
Kemana ku tagih janji.
Bagaimana ku dapat ganjaran janji.
Ehmm..
Berakhirlah,
Aku hanyut,
Terus berperang,
Kembali dosa oleh putus asa.
Ada..
Tagihan tak bisa kusampaikan entah pada siapa.

2.
Anda terlalu cepat memuji, walau hanya dalam mimpi.
Entah berharap dekat atau sekedar mengumpat.
Senandung itu terus mendayung.
Mungkin akan dan hampir sampai.
Tepat kala jangkar waktu mengangkat detaknya.
Terbang saja mimpi ini karena tak lagi misteri.
Tergambar pada raut cermin mengkerut di depan kantuk.
Bunyi berasal dari udara di samping helai kuku,
Hentakkan lelap kemudian tersenyum.
Sadar akan ada waktu di sela jari-jari itu.
Mimpi hanyalah mimpi..
Hanya saja.
Mimpi kali ini buat esok kembali bercahaya.
Kemarin itu adalah kerlip bintang.
Pujian itu buat melayang.
Meski..
Mimpi hanyalah mimpi..!!

3.
Biarkan aku tak berkata.
Tak sanggup ku ungkap semua.
Rahasia hati terpendam.
Ada kembali kala kau datang.
Biarkan aku berkata atas namanya.
Jeritan jiwa dengan bibirnya.
Biarkan aku jadi ruh.
Tempati jiwa raga suci.
..Dari pecinta atas syair cinta,
Ku berkata “aku mencintaimu”.
..Dari angina atas desahan bumi,
Ku berkata “aku menyayangimu”.
..Dari bulan atas kegelapan malam,
Ku berkata “ aku merindukanmu”.
..Dari jiwa atas raga dada,
Biarkan semua menjadi simbol tak berkata.

4.
Berikan aku jawaban atas jumlah hak ku atas hidup dan apa yang kumiliki,
Satu, dua, tiga atau setengah atau tak ada sama sekali ???
(Jawablah !!).
Bila ku dengar jawaban “ sepenuhnya milikmu “.
Aku akan bertanya,
Apa hakmu atas apa yang kumiliki ???
(Jawablah !!).
Bila kau jawab “ tak ada sama sekali “,
Aku kembali bertanya,
Lalu kenapa kau ambil apa yang bukan hakmu ???
(Jawablah !!).
…………….
Tak ada jawaban kurasa.

5.
Ada ketulusan tak sanggup semua ku tanggung.
Cahaya menyinari..
Sangat.
(Sumpah..)
Ini terlalu.
Dia merasa tak ada sensor motorik tertentu untuk berhenti
Mencipta dunia kata,
Sedang aku begitu tersendat kehabisan tenaga.
Ini terlalu..
(Amat !!)
Aku miskin, bahkan (bisa dibilang) fakir.
Dan kau limpahkan semua.
Setengah istana megah duniamu.
(Meski tidak semua)
Untukku.

Dia begitu bebas menarikan garis.
Namun tintaku terputus-putus tak tentu jadi apa.

Maaf,, semuanya
Aku belum siap untuk ini !!

6.
Langit memudar.
Gincu jingga muncul dari bukit di tenggara.
Menuai cerca dari waktu berpura.
Bukan itu..hanya terlewat nyatanya.
Antara kembali atau pergi tanpa tengok lagi.
Antara menjemput atau acuhkan sampai busuk.
Langit menangis.
Tersedak kehabisan air mata.
Terbit noda di sudut hati nan baru.
Asa esok akan datang dengan tangis baru.
Wajah malam jadi begitu mencekam.
Mencengkeram sejumput rahasia dari balik kata.
Tiap dialog langit hanya terjadi dua detik.
Dan kini entah mengapa.
Menjelang fajar.
Mentari belum berniat untuk bersinar.

Kenalan

Ada yang lebih penting daripada uang, Hp model terbaru, rumah besar, mobil mewah dll, etc. Tapi tetap saja kemanusiawian yang Allah kasih ternyata tumbuh lebih besar dan cepat daripada kepahamanku dalam menghadapi hidup.
Aku tahu dan sadar, apa yang aku lakukan tidak semuanya benar, tapi aku juga bingung dan pusing untuk bisa merubah apa yang aku sadari menjadi sebuah antisipasi yang konkret.
Apa yang bisa aku salahin ?! (Loh..?!!)
Lingkungankah ? Keluarga ? Ekonomi ? Atau diriku sendiri ?!.
Halooo…aku ini siapa sih ?
Evi !! Terus Evi yang kayak gimana ?
Apa pencarian jati diri itu penting ?? Sedangkan masih banyak hal lain yang harus kita beri salam selain perkenalan yang aneh untuk diri sendiri. Kapan kita sadar, apa kita ini sebenarnya ?.
Bingung ya..
Tapi yang pasti..
HARI INI ADALAH MILIKKU
MANUSIA HANYA HIDUP DALAM 3 HARI
DO’A DAN SABAR DALAM MENGHADAPI MASALAH
“Jangan bersedih, jangan meributkan masalah sepele karena semua masalah adalah sepele”.
Yah,,anggap saja sekarang aku baru saja berjabatan tangan dengan diriku sendiri. Masalah sepele bukan ketika aku memikirkan hal-hal aneh seperti ini ?.

Sebut Saja Gina

Sebut saja dia Gina. Dia ada di ruang yang tanpa sadar membuatnya terkekang atas penilaian orang lain terhadap dirinya.
Exlusive gitu, yah semacam porselen kaca yang rentan hancur meski berkilau diluarnya, seperti lilin yang bisa menerangi walau dia sendiri bersusah payah, berjuang keras menjaga nyala apinya.
Dan yang bisa dia lakukan hanyalah masuk ke kamar mandi sempit dengan bising keran air lalu terisak tertahan, berusaha untuk tak didengar orang lain. Berusaha tegar seolah tak ada apa-apa.
Menjadi Gina yang biasa-biasa saja, gak jelas apa ‘the big problem’-nya. Entah penantian seorang dia yang sempurna atau masalah keluarga yang entah apa. Bukti pertarungannya hanya mata sembab dan merah serta suara serak dihiasi senyum.
Baginya, semua memang sudah seharusnya terjadi. Tak ada yang patut di sesali. Hanya saja kadang dia memang butuh air mata. Bukan untuk apa, tapi memang hanya ingin menangis. Itu saja.
Dia memutuskan untuk tetap tenang dengan segelas air putih yang diminumnya setiap bangun pagi. Keputusan sudah diambil, tidak menutup kemungkinan yang bakal terjadi nanti. Ada perubahan meski sedikit. Ada penyesalan yang semoga hilang, ada sesak walau harusnya semua itu tidak ada.
Menjadi lilin itu sulit, aku pun tak mau hancur untuk menerangi orang lain. Setidaknya, tidak secepat itu. Katanya.
Sesuatu yang hebat, sesuatu yang sempurna, tentu tak ada selain Diri-Nya. Hanya kadang kenyarisan itu terlihat oleh mata yang tertutup pembelaan semata. Emosi yang meluap tanpa ada kata henti, sensor motorik tertentu yang mengikat. Tak ada beban sesungguhnya, hanya kadang orang menginginkan sesuatu yang hebat melalui masalah berat.
Untuk apa ?? Sedangkan dengan hidup saja sudah menjadi sebuah pilihan sulit untuk dilalui. Adakah kemudahan ??? Hanya untuk lebih mudah dimengerti saja.
Gak jelas ?. yah dia memang tidak mempermudah aku untuk menulisnya. Katanya “sebut saja aku Gina, yang lain biar ku simpan sendiri”.
Tujuan ku menulisnya di sini ? Aku memang hanya menulis apa yang ingin aku tulis. Itu saja.

Ceritaan

“Kenapa Allah namanya Allah ?”,tanyanya.
“Siapa seh yang nemenin Allah ?”, ada tanya lagi dilain waktu.
Ah ya, itu hanya dua contoh kecil pertanyaan yang dilontarkan seorang anak usia 5 tahun yang beberapa bulan ini selama durasi 2 jam dalam 5 hari setiap minggunya berinteraksi denganku. Jujur, aku ingin sekali memberikan jawaban yang brilian, yang cerdas, yang bisa membuat anak itu bisa mencintai benar-benar Tuhannya. Mengakui akan begitu besar kekuasaan-Nya. Tapi, apa daya.
Aku percaya, akan seperti apa seorang anak dikemudian hari itu bermula dari kejadian-kejadian kecil yang tak terduga pada awal anak itu paham akan suatu konsep dalam kehidupannya. Aku ingin mengukir di atas karang. Begitu ingin.
Betapa hebatnya Allah menciptakan makhluk satu ini. Lucu, menggemaskan sekaligus bisa mengaduk-aduk emosi dalam sepersekian detik saja. Subhanallah.
Anak itu sosok yang unik, mengagumkan kadang tak masuk akal. Sekalipun kita semua pernah merasakan masa kanak-kanak. Tapi bila berhadapan dengan seorang anak kecil sekarang ini, lihat saja begitu mudahnya kita berteriak-teriak (ah maaf mungkin aku saja yang begitu). Padahal mungkin apa yang dia lakukan dan tidak aku suka itu adalah timbal balik dari apa yang aku lakukan terhadap anak itu. Who know ??.
Seorang makhluk yang disebut anak ini bukan orang dewasa dalam bentuk mini. Dia berbeda, meski sama-sama manusia.
Setiap mereka punya hak yang sama untuk diberitahu apa yang mereka ingin tahu. Sayangnya kadang aku merasa tidak punya banyak waktu untuk berpikir serius menjawab setiap pertanyaan-pertanyaan unik mereka. Terlalu letih setelah seharian tadi disibukkan dengan segala tuntutan yang memang harus ada. Selalu kurang sabar dan kurang mau mengerti apa yang sebenarnya mereka inginkan. Padahal mereka punya hak juga kan untuk berkeinginan.
Sudahlah tak akan ada habis-habisnya kalau aku mengagumi makhluk ini dan menyesali betapa aku kurang tanggap untuk memberikan yang terbaik untuk mereka, sekalipun sangat ingin. Begitu ingin.
Mengukir di atas karang, begitu sulitnya bagiku.
Oh ya, kemarin waktu aku datang lagi untuk rutinitas 2 jam dalam 5 hari itu, makhluk unik itu teriak.”Aduh..aduh..Kak Evi, Dede kayak SBY neh”.
Ouwhh…apalagi seh ini, bahkan kita belum mulai apa-apa, gerutuku dalam hati. Karena tahu dia sedang bercanda, gak ada tuh raut kesakitan beneran dimuka innocentnya.
“Ini..ini..Dede kayak SBY”, ulangnya lagi, sekarang dengan memegang perut.
“Apaan De ?”, Tanyaku, gak ngerti betulan.
“Dede sakit perut kayak SBY diberita tadi pagi neh”, ungkapnya.
What.!!! Sejak kapan anak pra SD tontonannya berita politik. Tapi tertawa juga, geli hati ngelihat dia memegang perut sambil pasang tampang cemberut yang diringis-ringisin gitu (aduh gimana neh deskripsinya).
Hahaha..coba deh anda ketemu makhluk unik satu ini, aku jamin bisa bikin girang ngelupain BT-BT siang hari, tapi kadang tambah sebel sama tingkah ngelawannya.
Namanya juga anak-anak.
Btw, ada yang bisa Bantu aku menjawab pertanyaan yang ada awal tulisan ini gak??

Aku Tahu

Aku tak perlu diingatkan bila bumi ini terus berputar. Tak mesti dipaksa untuk mengerti bila waktu tak pernah berhenti. Aku tahu kalau semua berjalan dan aku di tuntut benar untuk tidak hanya diam.
Banyak pemikiran-pemikiran yang berseliweran dibenakku, tentu saja itu hasil interaksiku selama ini dengan lingkungan, dengan kehidupan. Semua itu digunakan untuk bisa membaca situasi atau mengenali orang lain dan akhirnya mencoba bersikap ‘benar’ dihadapannya. Bukan karena kalah, tetapi lebih kepada sikap ‘berusaha mengerti’.
Terkadang tak habis pikir kepada mereka, entah aku yang salah menangkap makna semua ini atau mereka yang memang tak mau mengerti.
Pikirku..Bila ingin hidup, maka hiduplah yang benar. Tetapi ingat kita akan hidup di dimensi lain dari tempat dan waktu yang mengandung kekinian saat ini. Dan pikirku lagi,wajar saja bila aku tidak mau menyesal kelak.
Tidakkah seharusnya kita menyamakan persepsi yang ada. Karena aku, mereka, kita semua..berawal, menjalani sampai nanti akan berakhir di satu tempat yang benar-benar berbeda secara bersama-sama.
Kenapa kini kita berbeda ??
Mungkinkah karena Tuhan memang menghendakinya demikian ???