Rabu, 08 April 2009

Ceritaan

“Kenapa Allah namanya Allah ?”,tanyanya.
“Siapa seh yang nemenin Allah ?”, ada tanya lagi dilain waktu.
Ah ya, itu hanya dua contoh kecil pertanyaan yang dilontarkan seorang anak usia 5 tahun yang beberapa bulan ini selama durasi 2 jam dalam 5 hari setiap minggunya berinteraksi denganku. Jujur, aku ingin sekali memberikan jawaban yang brilian, yang cerdas, yang bisa membuat anak itu bisa mencintai benar-benar Tuhannya. Mengakui akan begitu besar kekuasaan-Nya. Tapi, apa daya.
Aku percaya, akan seperti apa seorang anak dikemudian hari itu bermula dari kejadian-kejadian kecil yang tak terduga pada awal anak itu paham akan suatu konsep dalam kehidupannya. Aku ingin mengukir di atas karang. Begitu ingin.
Betapa hebatnya Allah menciptakan makhluk satu ini. Lucu, menggemaskan sekaligus bisa mengaduk-aduk emosi dalam sepersekian detik saja. Subhanallah.
Anak itu sosok yang unik, mengagumkan kadang tak masuk akal. Sekalipun kita semua pernah merasakan masa kanak-kanak. Tapi bila berhadapan dengan seorang anak kecil sekarang ini, lihat saja begitu mudahnya kita berteriak-teriak (ah maaf mungkin aku saja yang begitu). Padahal mungkin apa yang dia lakukan dan tidak aku suka itu adalah timbal balik dari apa yang aku lakukan terhadap anak itu. Who know ??.
Seorang makhluk yang disebut anak ini bukan orang dewasa dalam bentuk mini. Dia berbeda, meski sama-sama manusia.
Setiap mereka punya hak yang sama untuk diberitahu apa yang mereka ingin tahu. Sayangnya kadang aku merasa tidak punya banyak waktu untuk berpikir serius menjawab setiap pertanyaan-pertanyaan unik mereka. Terlalu letih setelah seharian tadi disibukkan dengan segala tuntutan yang memang harus ada. Selalu kurang sabar dan kurang mau mengerti apa yang sebenarnya mereka inginkan. Padahal mereka punya hak juga kan untuk berkeinginan.
Sudahlah tak akan ada habis-habisnya kalau aku mengagumi makhluk ini dan menyesali betapa aku kurang tanggap untuk memberikan yang terbaik untuk mereka, sekalipun sangat ingin. Begitu ingin.
Mengukir di atas karang, begitu sulitnya bagiku.
Oh ya, kemarin waktu aku datang lagi untuk rutinitas 2 jam dalam 5 hari itu, makhluk unik itu teriak.”Aduh..aduh..Kak Evi, Dede kayak SBY neh”.
Ouwhh…apalagi seh ini, bahkan kita belum mulai apa-apa, gerutuku dalam hati. Karena tahu dia sedang bercanda, gak ada tuh raut kesakitan beneran dimuka innocentnya.
“Ini..ini..Dede kayak SBY”, ulangnya lagi, sekarang dengan memegang perut.
“Apaan De ?”, Tanyaku, gak ngerti betulan.
“Dede sakit perut kayak SBY diberita tadi pagi neh”, ungkapnya.
What.!!! Sejak kapan anak pra SD tontonannya berita politik. Tapi tertawa juga, geli hati ngelihat dia memegang perut sambil pasang tampang cemberut yang diringis-ringisin gitu (aduh gimana neh deskripsinya).
Hahaha..coba deh anda ketemu makhluk unik satu ini, aku jamin bisa bikin girang ngelupain BT-BT siang hari, tapi kadang tambah sebel sama tingkah ngelawannya.
Namanya juga anak-anak.
Btw, ada yang bisa Bantu aku menjawab pertanyaan yang ada awal tulisan ini gak??

Tidak ada komentar: