Rabu, 08 April 2009

Kumpulan Puisi

1.
Ada larangan anak kecil berenang agar tak tenggelam.
Ada tabu untuk tertentu agar tak berseteru.
Ada dosa, ganjaran bagi si pembangkang.
Tapi..
Ada biru laut yang melambai,
Janjikan ia sendiri tanpa hiu tanpa gelombang pasang.
Ada seteru berseru,
Janjikan damai tanpa ada dendam dalam hati.
Ada maaf akan khilaf,
Janjikan penghapusan selama masa salah tak terulang lagi.
Sempat…
Berani saja menyelam tanpa ada jaminan,
Hanya janji.
Berani terus rusuh tanpa ada jaminan,
Hanya janji.
Berani lagi mendosa tanpa ada jaminan,
Hanya janji.
Aku bertanya..
Siapakah pemegang janji.
Kemana ku tagih janji.
Bagaimana ku dapat ganjaran janji.
Ehmm..
Berakhirlah,
Aku hanyut,
Terus berperang,
Kembali dosa oleh putus asa.
Ada..
Tagihan tak bisa kusampaikan entah pada siapa.

2.
Anda terlalu cepat memuji, walau hanya dalam mimpi.
Entah berharap dekat atau sekedar mengumpat.
Senandung itu terus mendayung.
Mungkin akan dan hampir sampai.
Tepat kala jangkar waktu mengangkat detaknya.
Terbang saja mimpi ini karena tak lagi misteri.
Tergambar pada raut cermin mengkerut di depan kantuk.
Bunyi berasal dari udara di samping helai kuku,
Hentakkan lelap kemudian tersenyum.
Sadar akan ada waktu di sela jari-jari itu.
Mimpi hanyalah mimpi..
Hanya saja.
Mimpi kali ini buat esok kembali bercahaya.
Kemarin itu adalah kerlip bintang.
Pujian itu buat melayang.
Meski..
Mimpi hanyalah mimpi..!!

3.
Biarkan aku tak berkata.
Tak sanggup ku ungkap semua.
Rahasia hati terpendam.
Ada kembali kala kau datang.
Biarkan aku berkata atas namanya.
Jeritan jiwa dengan bibirnya.
Biarkan aku jadi ruh.
Tempati jiwa raga suci.
..Dari pecinta atas syair cinta,
Ku berkata “aku mencintaimu”.
..Dari angina atas desahan bumi,
Ku berkata “aku menyayangimu”.
..Dari bulan atas kegelapan malam,
Ku berkata “ aku merindukanmu”.
..Dari jiwa atas raga dada,
Biarkan semua menjadi simbol tak berkata.

4.
Berikan aku jawaban atas jumlah hak ku atas hidup dan apa yang kumiliki,
Satu, dua, tiga atau setengah atau tak ada sama sekali ???
(Jawablah !!).
Bila ku dengar jawaban “ sepenuhnya milikmu “.
Aku akan bertanya,
Apa hakmu atas apa yang kumiliki ???
(Jawablah !!).
Bila kau jawab “ tak ada sama sekali “,
Aku kembali bertanya,
Lalu kenapa kau ambil apa yang bukan hakmu ???
(Jawablah !!).
…………….
Tak ada jawaban kurasa.

5.
Ada ketulusan tak sanggup semua ku tanggung.
Cahaya menyinari..
Sangat.
(Sumpah..)
Ini terlalu.
Dia merasa tak ada sensor motorik tertentu untuk berhenti
Mencipta dunia kata,
Sedang aku begitu tersendat kehabisan tenaga.
Ini terlalu..
(Amat !!)
Aku miskin, bahkan (bisa dibilang) fakir.
Dan kau limpahkan semua.
Setengah istana megah duniamu.
(Meski tidak semua)
Untukku.

Dia begitu bebas menarikan garis.
Namun tintaku terputus-putus tak tentu jadi apa.

Maaf,, semuanya
Aku belum siap untuk ini !!

6.
Langit memudar.
Gincu jingga muncul dari bukit di tenggara.
Menuai cerca dari waktu berpura.
Bukan itu..hanya terlewat nyatanya.
Antara kembali atau pergi tanpa tengok lagi.
Antara menjemput atau acuhkan sampai busuk.
Langit menangis.
Tersedak kehabisan air mata.
Terbit noda di sudut hati nan baru.
Asa esok akan datang dengan tangis baru.
Wajah malam jadi begitu mencekam.
Mencengkeram sejumput rahasia dari balik kata.
Tiap dialog langit hanya terjadi dua detik.
Dan kini entah mengapa.
Menjelang fajar.
Mentari belum berniat untuk bersinar.

2 komentar:

Anonim mengatakan...

puisi palling favorit saya yang no 6, like this banget. sampe saya salin di diary ;)

sok atuh publish lagi yang lainnya....

evilia mengatakan...

okkkeeeh...makasih..
:)