Rabu, 08 April 2009

Tulis Aja.....

Sempet bingung pertamanya, harus nulis apalagi. Nyari-nyari bahan, ngejar-ngejar ide sampe hunting tulisan-tulisan gak jelas gitu (Eh, emang ada ya ?). Yah intinya berusaha sekuat tenaga mencari sesuatu untuk ditulis.
Akhirnya dapet masukan, katanya (lupa lagi kata siapa ) kalo memang mau nulis ya tulis aja. Meskipun bingung mau nulis apa ya udah tulis yang dibingungin apa (gimana sih).
Semua orang bisa nulis kok, buktinya semua orang bisa bicara (tentu ada pengecualian yah). Yang biasa kita pakai kan bahasa yang tersusun dari kalimat. Dan kalimat itu sendiri terdiri dari kata-kata. Setidaknya ketika kita bisa bicara A, B, C, D, E, F, G sampe Z. Bukankah huruf-huruf itu bisa ditulis ???. Ya udah tulis aja !!!.
Jangan mempersulit hal-hal yang mudah. Seperti yang kawan SMA ku bilang “hidup itu sederhana, jangan suka memperumit masalah”. Ah ya, mudah sekali dia bicara. Tetapi, memang demikian adanya.
Jadi, ya sudah..Aku tulis saja apa yang mau ditulis. Selesai.

Kumpulan Puisi

1.
Ada larangan anak kecil berenang agar tak tenggelam.
Ada tabu untuk tertentu agar tak berseteru.
Ada dosa, ganjaran bagi si pembangkang.
Tapi..
Ada biru laut yang melambai,
Janjikan ia sendiri tanpa hiu tanpa gelombang pasang.
Ada seteru berseru,
Janjikan damai tanpa ada dendam dalam hati.
Ada maaf akan khilaf,
Janjikan penghapusan selama masa salah tak terulang lagi.
Sempat…
Berani saja menyelam tanpa ada jaminan,
Hanya janji.
Berani terus rusuh tanpa ada jaminan,
Hanya janji.
Berani lagi mendosa tanpa ada jaminan,
Hanya janji.
Aku bertanya..
Siapakah pemegang janji.
Kemana ku tagih janji.
Bagaimana ku dapat ganjaran janji.
Ehmm..
Berakhirlah,
Aku hanyut,
Terus berperang,
Kembali dosa oleh putus asa.
Ada..
Tagihan tak bisa kusampaikan entah pada siapa.

2.
Anda terlalu cepat memuji, walau hanya dalam mimpi.
Entah berharap dekat atau sekedar mengumpat.
Senandung itu terus mendayung.
Mungkin akan dan hampir sampai.
Tepat kala jangkar waktu mengangkat detaknya.
Terbang saja mimpi ini karena tak lagi misteri.
Tergambar pada raut cermin mengkerut di depan kantuk.
Bunyi berasal dari udara di samping helai kuku,
Hentakkan lelap kemudian tersenyum.
Sadar akan ada waktu di sela jari-jari itu.
Mimpi hanyalah mimpi..
Hanya saja.
Mimpi kali ini buat esok kembali bercahaya.
Kemarin itu adalah kerlip bintang.
Pujian itu buat melayang.
Meski..
Mimpi hanyalah mimpi..!!

3.
Biarkan aku tak berkata.
Tak sanggup ku ungkap semua.
Rahasia hati terpendam.
Ada kembali kala kau datang.
Biarkan aku berkata atas namanya.
Jeritan jiwa dengan bibirnya.
Biarkan aku jadi ruh.
Tempati jiwa raga suci.
..Dari pecinta atas syair cinta,
Ku berkata “aku mencintaimu”.
..Dari angina atas desahan bumi,
Ku berkata “aku menyayangimu”.
..Dari bulan atas kegelapan malam,
Ku berkata “ aku merindukanmu”.
..Dari jiwa atas raga dada,
Biarkan semua menjadi simbol tak berkata.

4.
Berikan aku jawaban atas jumlah hak ku atas hidup dan apa yang kumiliki,
Satu, dua, tiga atau setengah atau tak ada sama sekali ???
(Jawablah !!).
Bila ku dengar jawaban “ sepenuhnya milikmu “.
Aku akan bertanya,
Apa hakmu atas apa yang kumiliki ???
(Jawablah !!).
Bila kau jawab “ tak ada sama sekali “,
Aku kembali bertanya,
Lalu kenapa kau ambil apa yang bukan hakmu ???
(Jawablah !!).
…………….
Tak ada jawaban kurasa.

5.
Ada ketulusan tak sanggup semua ku tanggung.
Cahaya menyinari..
Sangat.
(Sumpah..)
Ini terlalu.
Dia merasa tak ada sensor motorik tertentu untuk berhenti
Mencipta dunia kata,
Sedang aku begitu tersendat kehabisan tenaga.
Ini terlalu..
(Amat !!)
Aku miskin, bahkan (bisa dibilang) fakir.
Dan kau limpahkan semua.
Setengah istana megah duniamu.
(Meski tidak semua)
Untukku.

Dia begitu bebas menarikan garis.
Namun tintaku terputus-putus tak tentu jadi apa.

Maaf,, semuanya
Aku belum siap untuk ini !!

6.
Langit memudar.
Gincu jingga muncul dari bukit di tenggara.
Menuai cerca dari waktu berpura.
Bukan itu..hanya terlewat nyatanya.
Antara kembali atau pergi tanpa tengok lagi.
Antara menjemput atau acuhkan sampai busuk.
Langit menangis.
Tersedak kehabisan air mata.
Terbit noda di sudut hati nan baru.
Asa esok akan datang dengan tangis baru.
Wajah malam jadi begitu mencekam.
Mencengkeram sejumput rahasia dari balik kata.
Tiap dialog langit hanya terjadi dua detik.
Dan kini entah mengapa.
Menjelang fajar.
Mentari belum berniat untuk bersinar.

Kenalan

Ada yang lebih penting daripada uang, Hp model terbaru, rumah besar, mobil mewah dll, etc. Tapi tetap saja kemanusiawian yang Allah kasih ternyata tumbuh lebih besar dan cepat daripada kepahamanku dalam menghadapi hidup.
Aku tahu dan sadar, apa yang aku lakukan tidak semuanya benar, tapi aku juga bingung dan pusing untuk bisa merubah apa yang aku sadari menjadi sebuah antisipasi yang konkret.
Apa yang bisa aku salahin ?! (Loh..?!!)
Lingkungankah ? Keluarga ? Ekonomi ? Atau diriku sendiri ?!.
Halooo…aku ini siapa sih ?
Evi !! Terus Evi yang kayak gimana ?
Apa pencarian jati diri itu penting ?? Sedangkan masih banyak hal lain yang harus kita beri salam selain perkenalan yang aneh untuk diri sendiri. Kapan kita sadar, apa kita ini sebenarnya ?.
Bingung ya..
Tapi yang pasti..
HARI INI ADALAH MILIKKU
MANUSIA HANYA HIDUP DALAM 3 HARI
DO’A DAN SABAR DALAM MENGHADAPI MASALAH
“Jangan bersedih, jangan meributkan masalah sepele karena semua masalah adalah sepele”.
Yah,,anggap saja sekarang aku baru saja berjabatan tangan dengan diriku sendiri. Masalah sepele bukan ketika aku memikirkan hal-hal aneh seperti ini ?.

Sebut Saja Gina

Sebut saja dia Gina. Dia ada di ruang yang tanpa sadar membuatnya terkekang atas penilaian orang lain terhadap dirinya.
Exlusive gitu, yah semacam porselen kaca yang rentan hancur meski berkilau diluarnya, seperti lilin yang bisa menerangi walau dia sendiri bersusah payah, berjuang keras menjaga nyala apinya.
Dan yang bisa dia lakukan hanyalah masuk ke kamar mandi sempit dengan bising keran air lalu terisak tertahan, berusaha untuk tak didengar orang lain. Berusaha tegar seolah tak ada apa-apa.
Menjadi Gina yang biasa-biasa saja, gak jelas apa ‘the big problem’-nya. Entah penantian seorang dia yang sempurna atau masalah keluarga yang entah apa. Bukti pertarungannya hanya mata sembab dan merah serta suara serak dihiasi senyum.
Baginya, semua memang sudah seharusnya terjadi. Tak ada yang patut di sesali. Hanya saja kadang dia memang butuh air mata. Bukan untuk apa, tapi memang hanya ingin menangis. Itu saja.
Dia memutuskan untuk tetap tenang dengan segelas air putih yang diminumnya setiap bangun pagi. Keputusan sudah diambil, tidak menutup kemungkinan yang bakal terjadi nanti. Ada perubahan meski sedikit. Ada penyesalan yang semoga hilang, ada sesak walau harusnya semua itu tidak ada.
Menjadi lilin itu sulit, aku pun tak mau hancur untuk menerangi orang lain. Setidaknya, tidak secepat itu. Katanya.
Sesuatu yang hebat, sesuatu yang sempurna, tentu tak ada selain Diri-Nya. Hanya kadang kenyarisan itu terlihat oleh mata yang tertutup pembelaan semata. Emosi yang meluap tanpa ada kata henti, sensor motorik tertentu yang mengikat. Tak ada beban sesungguhnya, hanya kadang orang menginginkan sesuatu yang hebat melalui masalah berat.
Untuk apa ?? Sedangkan dengan hidup saja sudah menjadi sebuah pilihan sulit untuk dilalui. Adakah kemudahan ??? Hanya untuk lebih mudah dimengerti saja.
Gak jelas ?. yah dia memang tidak mempermudah aku untuk menulisnya. Katanya “sebut saja aku Gina, yang lain biar ku simpan sendiri”.
Tujuan ku menulisnya di sini ? Aku memang hanya menulis apa yang ingin aku tulis. Itu saja.

Ceritaan

“Kenapa Allah namanya Allah ?”,tanyanya.
“Siapa seh yang nemenin Allah ?”, ada tanya lagi dilain waktu.
Ah ya, itu hanya dua contoh kecil pertanyaan yang dilontarkan seorang anak usia 5 tahun yang beberapa bulan ini selama durasi 2 jam dalam 5 hari setiap minggunya berinteraksi denganku. Jujur, aku ingin sekali memberikan jawaban yang brilian, yang cerdas, yang bisa membuat anak itu bisa mencintai benar-benar Tuhannya. Mengakui akan begitu besar kekuasaan-Nya. Tapi, apa daya.
Aku percaya, akan seperti apa seorang anak dikemudian hari itu bermula dari kejadian-kejadian kecil yang tak terduga pada awal anak itu paham akan suatu konsep dalam kehidupannya. Aku ingin mengukir di atas karang. Begitu ingin.
Betapa hebatnya Allah menciptakan makhluk satu ini. Lucu, menggemaskan sekaligus bisa mengaduk-aduk emosi dalam sepersekian detik saja. Subhanallah.
Anak itu sosok yang unik, mengagumkan kadang tak masuk akal. Sekalipun kita semua pernah merasakan masa kanak-kanak. Tapi bila berhadapan dengan seorang anak kecil sekarang ini, lihat saja begitu mudahnya kita berteriak-teriak (ah maaf mungkin aku saja yang begitu). Padahal mungkin apa yang dia lakukan dan tidak aku suka itu adalah timbal balik dari apa yang aku lakukan terhadap anak itu. Who know ??.
Seorang makhluk yang disebut anak ini bukan orang dewasa dalam bentuk mini. Dia berbeda, meski sama-sama manusia.
Setiap mereka punya hak yang sama untuk diberitahu apa yang mereka ingin tahu. Sayangnya kadang aku merasa tidak punya banyak waktu untuk berpikir serius menjawab setiap pertanyaan-pertanyaan unik mereka. Terlalu letih setelah seharian tadi disibukkan dengan segala tuntutan yang memang harus ada. Selalu kurang sabar dan kurang mau mengerti apa yang sebenarnya mereka inginkan. Padahal mereka punya hak juga kan untuk berkeinginan.
Sudahlah tak akan ada habis-habisnya kalau aku mengagumi makhluk ini dan menyesali betapa aku kurang tanggap untuk memberikan yang terbaik untuk mereka, sekalipun sangat ingin. Begitu ingin.
Mengukir di atas karang, begitu sulitnya bagiku.
Oh ya, kemarin waktu aku datang lagi untuk rutinitas 2 jam dalam 5 hari itu, makhluk unik itu teriak.”Aduh..aduh..Kak Evi, Dede kayak SBY neh”.
Ouwhh…apalagi seh ini, bahkan kita belum mulai apa-apa, gerutuku dalam hati. Karena tahu dia sedang bercanda, gak ada tuh raut kesakitan beneran dimuka innocentnya.
“Ini..ini..Dede kayak SBY”, ulangnya lagi, sekarang dengan memegang perut.
“Apaan De ?”, Tanyaku, gak ngerti betulan.
“Dede sakit perut kayak SBY diberita tadi pagi neh”, ungkapnya.
What.!!! Sejak kapan anak pra SD tontonannya berita politik. Tapi tertawa juga, geli hati ngelihat dia memegang perut sambil pasang tampang cemberut yang diringis-ringisin gitu (aduh gimana neh deskripsinya).
Hahaha..coba deh anda ketemu makhluk unik satu ini, aku jamin bisa bikin girang ngelupain BT-BT siang hari, tapi kadang tambah sebel sama tingkah ngelawannya.
Namanya juga anak-anak.
Btw, ada yang bisa Bantu aku menjawab pertanyaan yang ada awal tulisan ini gak??

Aku Tahu

Aku tak perlu diingatkan bila bumi ini terus berputar. Tak mesti dipaksa untuk mengerti bila waktu tak pernah berhenti. Aku tahu kalau semua berjalan dan aku di tuntut benar untuk tidak hanya diam.
Banyak pemikiran-pemikiran yang berseliweran dibenakku, tentu saja itu hasil interaksiku selama ini dengan lingkungan, dengan kehidupan. Semua itu digunakan untuk bisa membaca situasi atau mengenali orang lain dan akhirnya mencoba bersikap ‘benar’ dihadapannya. Bukan karena kalah, tetapi lebih kepada sikap ‘berusaha mengerti’.
Terkadang tak habis pikir kepada mereka, entah aku yang salah menangkap makna semua ini atau mereka yang memang tak mau mengerti.
Pikirku..Bila ingin hidup, maka hiduplah yang benar. Tetapi ingat kita akan hidup di dimensi lain dari tempat dan waktu yang mengandung kekinian saat ini. Dan pikirku lagi,wajar saja bila aku tidak mau menyesal kelak.
Tidakkah seharusnya kita menyamakan persepsi yang ada. Karena aku, mereka, kita semua..berawal, menjalani sampai nanti akan berakhir di satu tempat yang benar-benar berbeda secara bersama-sama.
Kenapa kini kita berbeda ??
Mungkinkah karena Tuhan memang menghendakinya demikian ???